Allahumma bariklana fii Rojaba wa Sya’ban wa balighna Romadhon…..
Ada kebiasaan tidak baik yang kerap kita lakukan, namun sangat jarang kita sadari. Kebiasaan itu adalah mengabaikan kesiapan kita untuk melakukan sebuah kewajiban sebelum tiba masanya. Betapa banyak orang yang meninggal, misalnya, mereka pergi menghadap robbnya namun menyisakan permasalahan besar diantara anak-anak dan keluarga yang ditinggalkannya. Sebabnya, karena mereka tidak punya catatan wasiat atas apa yang dimilikinya. Padahal Rasulullah saw telah mengajarkan agar kita senantiasa menuliskan wasiat sebelum memejamkan mata diwaktu malam, supaya kita dapat menikmati kepergian itu dengan tenang.
Dalam kewajiban-kewajiban kita yang lain, pun kita seringkali terjebak pada ketidaksiapan sehingga tidak mampu melakukannya secara maksimal. Terhadap Ramadhan kita juga melakukan kebiasaan yang sama. Umumnya kita jarang sekali menyinggung tentang Ramadhan dalam pembicaraan kita, atau sekedar mengingat-ingat keutamaannya, kecuali jika kita benar-benar telah berada dalam lingkaran Ramadhan.
Setelah memasuki Ramadhan dan kita betul-betul telah berpuasa di siang harinya barulah kita memasuki majelis-majelis ilmu, duduk dengan tenang mendengarkan nasehat-nasehat dari penceramah yang mengingatkan kita akan keutamaan, keistimewaan, dan keberkahan Ramadhan, serta jenis-jenis ketaatan yang dapat kita optimalkan di dalamnya.
Sebelum itu, sebelum kedatangan Ramadhan, kita tidak pernah mencoba untuk mengingat, berdiskusi, atau membuka lembaran-lembaran kitab dan buku yang berkisah tentang keistimewaan Ramadhan.
Inilah kelalaian yang telah menjadi kebiasaan kita. Kita lupa untuk memikirkan Ramadhan kecuali jika tiba-tiba ia sudah ada di depan mata, setelah sholat tarawih sesaat lagi dilakukan. Ini tentu saja sikap yang tidak pantas dimiliki seorang muslim, karena seakan tidak memiliki tatakrama terhadap bulan yang mulia itu, melainkan justru berpaling dari kemuliaan dan keberkahannya.
Sungguh, ibadah itu tidak akan kita temukan kenikmatannya kecuali jika kita menyiapkan jiwa yang lapang untuk menerimanya, serta mengetahui bahwa ibadah tersebut penting untuk kita lakukan, sehingga akan memunculkan kerinduan dalam diri untuk bertemu dengannya dan melakukannya. Kita terkadang hampir saja tidak memiliki sedikitpun kesiapan untuk menyambut kedatangan Ramadhan yang mulia sebagaimana Rasulullah yang selalu menantinya dengan penuh rindu.
Doa beliau yang diriwayatkan Anas bin Malik menjadi bukti bahwa dua bulan sebelum kedatangan Ramadhan beliau telah mengingat-ingatnya. Karena itu, tiga bulan menjelang Ramadhan kita coba membuka ingatan kita akan datangnya bulan mulia itu. Tak ada maksud yang lain dari sikap ini kecuali agar kita mampu memberi penghormatan yang lebih terhadapnya, dan bisa melakukan banyak ibadah secara maksimal di dalamnya. Tiga bulan dari sekarang, kita coba merevisi hidup kita, melawan ketidakberdayaan kita dari cengkeraman duniawi, menghancurkan kemalasan fisik dan jiwa kita agar memiliki semangat yang cukup untuk menunaikan kewajiban secara benar dan sempurna. Tiga bulan sejak hari ini, kita berupaya untuk membuka ruang rindu terhadap Ramadhan, agar ia juga rindu kepada kita. Semoga kesadaran ini tidak membuat kita terperangah tak berdaya, ketika beduk sahur ditabu.@
Dicuplik dari:
Rubrik DIROSAT (Kajian Utama)
Sadarkah Kita, Tiga Bulan Lagi Ramadhan
Majalah Tarbawi Edisi 180 th.9
Jumadats Tsaniyah 1429 H – 5 Juni 2008 M